Beradab Sebelum Berilmu

beradab sebelum berilmuFenomena lidah dai yang terpeleset saat berikhtiar menafsirkan Surat Adh-Dhuha ayat tujuh, tidak melulu soal kekurangan ilmu pengetahuan agama. Sebab, beberapa waktu silam, ada juga pendakwah yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di sebuah kampus di Timur Tengah, yang masuk pusaran kontroversi tatkala membahas keberadaan orang tua Nabi Muhammad di akhirat. Untuk itu kita perlu bahas topik beradab sebelum berilmu.

Apalagi, kalau ditelaah lebih lanjut, dai yang terpeleset lidah saat berbicara surah adh dhuha itu, dalam satu rangkaian ceramah yang sama, memertanyakan tentang urgensi peringatan maulid Nabi Muhammad yang dilakukan oleh umat muslim Indonesia. Padahal, peringatan maulid tadi, tujuannya tidak lain adalah untuk memuliakan dan mengingat kemuliaan Nabi Muhammad.

Sementara dai yang membahas keberadaan orang tua Nabi Muhammad di akhirat, setali dua uang, kerap mengritisi perayaan maulid nabi.

Jadi, fenomena dua dai di atas, selain dapat ditelusuri dari aspek kepadatan referensi atau wawasan yang bersangkutan, bisa pula dikupas dari bagaimana adab atau etika atau sopan santun yang mereka miliki. Khususnya, tatkala membahas Nabi Muhammad yang mulia, beserta keluarganya.

Baca juga:  Adab Pembantu kepada Majikan Menurut Imam al-Ghazali

Termasuk, bagaimana perlakuan mereka sewaktu berdakwah dengan topik-topik tersebut. Juga, bagaimana menempatkan kehati-hatian dan penghormatan pada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad itu.

Apakah mereka tidak beradab? Bukan itu yang akan didiskusikan kali ini.

Pangkalnya, bisa jadi, definisi adab yang mereka pahami, tidak menyentuh definisi adab Muslimin yang lain. Dakwah mereka, kurang berbahasa sama (ada perbedaan definisi adab) dengan kaum Muslimin kebanyakan. Namun, entah mengapa, mereka memilih bersuara lebih nyaring.

Adab adalah bagian terpenting dari kehidupan beragama. Sebab, aspek ini berkaitan dengan akhlak. Kalangan santri di Nusantara, misalnya, selalu berupaya mencium tangan ustadz atau para kiai. Salah satu alasannya, mereka ingin keberkahan dari Allahu ta’ala, melalui jalur melakukan akhlak baik: bersopan santun pada orang yang lebih tua atau lebih berilmu. Yang dilakukan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kultus individu, seperti banyak ditudingkan oleh orang-orang yang tidak suka mencium tangan guru.

Baca juga:  Adab Berteman Menurut Imam Al-Ghozali

Nah, kalau guru dan kiai saja mereka muliakan sedemikian rupa, bagaimana dengan Nabi Muhammad? Tak ada adab yang akan mereka suguhkan semulia dan seterbaik tatkala mereka membicarakan rasul penutup ini.

Para ulama terdahulu, yang taraf keilmuannya jauh lebih tinggi dari semua ulama kekinian, memiliki adab yang atau etika yang luar biasa pada para sahabat. Bahkan, banyak dari mereka yang tidak sudi membicarakan tentang perang shiffin dan perang jamal, karena tidak ingin mengungkit luka di masa itu. Dalih mereka kira-kira begini: apa yang sudah dijauhkan Allahu ta’ala dari tangan kita (kesalahpahaman di antara generasi terbaik Islam), janganlah kita dekatkan dengan lisan sendiri.

Nah, kalau para shabat saja mereka muliakan sedemikian rupa, bagaimana dengan Nabi Muhammad? Tak ada adab yang akan mereka tampilkan semulia dan seterbaik tatkala mereka membahas tentang rasul yang welas asih ini.

Baca juga:  Adab Terhadap Orang Tua Berbeda Agama

Dalam sejumlah riwayat, Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallahu ‘anh, pernah hampir menjadi imam shalat yang dalam barisan makmunya ada Nabi Muhammad. Bahkan, itu dikerjakannya atas isyarat dan arahan Rasulullah sendiri. Tapi apa yang dilakukan Abu Bakar? Ia memilih mundur karena sedemikian tinggi adab dan etikanya pada Nabi Muhammad.

Lantas, siapakah yang lebih berilmu dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radlialluhu ‘anhu dan ulama-ulama salaf terdahulu yang enggan membahas perang saudara antarkaum Muslimin? Tapi toh, mereka mendahulukan adab dan etika mereka daripada pengetahuan yang memenuhi isi kepala mereka yang mulia.

Mungkin, dua dai yang pernah tergelincir itu juga memiliki adab yang tinggi. Namun, bisa jadi, ada perbedaan perspektif soal adab atau etika yang ada di kepala mereka, dengan kaum Muslimin yang lain. Yang bisa jadi, sebagian dari kaum Muslimin tadi, memiliki adab yang lebih luas dan ilmu yang lebih dalam dari mereka. Disinilah perlunya beradab sebelum berilmu.

Sumber:nu.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *