Akibat Berilmu tapi Tidak Beradab dan Tata Krama

afdhol - 08/09/2018 - Adab /

adab anak terhadap orang tuaTugas seorang kiai selain mendidik santri-santrinya dengan berbagai ilmu, ia juga harus mampu mengarahkannya dengan suri tauladan yang baik seperti yang pernah diajarkan Rasulullah Saw, agar santri yang dididikya juga dapat menularkan tauladan yang baik bagi orang-orang di sekitarnya.  Adalah tidak diharapkan mereka berilmu tapi tidak beradab

Hal itu disampaikan Katib Syuriyah PCNU Kota Depok KH Muhammad Yusuf dalam pengajian kitab I’anah al-Thalibin di Depok pekan lalu.

Selain itu, kata Kiai Yusuf, meningkatkan kepekaan terhadap masalah-masalah sosial juga perlu, agar santri tidak hanya sebagai seseorang yang hanya pintar mengaji tapi juga gudang dari segala solusi. Namun yang paling utama adalah adab dan tata krama yang harus selalu dikedepankan, sebab untuk apa berilmu jika tidak mengedepankan adabnya.

Baca juga:  Adab Terhadap Orang Tua Berbeda Agama

“Dengan berbagai wawasan dan bekal tersebut, seorang santri diharapkan mampu menjadi cikal bakal penerus bangsa yang menyerukan karakteristik Islam yang moderat, Islam yang rahmatan lil’alamin,” tegasnya.

Terutama, sambungnya, sebagai santri yang merupakan figur tholab al ilmi harus waspada dalam menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Jangan sampai seorang santri terlena dengan ilmu yang dimiliki sehingga menjadikannya tarafu’ atau berbangga-bangga dengan ilmu, lalu melupakan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat.

“Jadi orang itu jangan tarafu’, mentang-mentang ilmu ada, ia tunjukkan kepada orang-orang, supaya diakui keilmuannya. Sesungguhnya yang mengangkat derajat seseorang adalah Allah. Hati-hati, bisa jadi suatu saat Allah menghendaki jatuh, maka jatuh tuh orang dengan apa yang dilakonin,” tukas Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyyah At-Tibyan Depok itu.

Baca juga:  10 Adab Pencari Ilmu Menurut Hadratussyaikh

Menurutnya, ancaman yang luar biasa bagi para penuntut ilmu adalah tarafu’, berbangga-bangga dengan apa yang murid hasilkan selama bertahun-tahun dalam upayanya mencari ilmu. Hal tersebut merupakan kesombongan yang luar biasa. Karena ilmu merupakan cahaya, justru jika diiringi dengan tarafu’ akan membuat cahaya ilmu yang dimiliki menjadi redup.

“Kalau sudah begitu, maka yang terjadi adalah, kepada gurunnya pun dia akan lupa, karena sudah merasa puas dan selesai dalam pencapaiannya, sehingga sifat kotor yang lain akan masuk ke dalam hatinya, seperti takabbur, riya, ujub, ghodob, dan penyakit-penyakit lainnya,” ucap Kiai Yusuf.

Baca juga:  Adab Pembantu kepada Majikan Menurut Imam al-Ghazali

Fenomena seperti inilah yang menurutnya, sering terlihat di media, baik televisi maupun media sosial. Sebagian telah merasa puas dengan ilmu yang dimiliki, sehingga ia selalu merasa bahwa kebenaran adalah miliknya. Sehingga yang terjadi adalah saling menjatuhkan antara penceramah satu dan lainnya.

Solusi permasalahan tersebut menurut Kiai Yusuf, mengingatkan bahwa adab adalah simbol utama suatu keberkahan. Seluas apapun ilmu sang murid, jika tidak disertai dengan adab yang baik, maka keberkahan tidak akan menghampirinya.

“Upaya tersebut dapat dilihat dengan tidak melupakan guru, selalu meminta nasihat kepadanya, dan mondoakannya. Agar keberkahan antara guru dan murid terus tersambung ila yaumil qiyamah,” pungkasnya. (Nuri Farikhatin/Fathoni)
Sumber:www.nu.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *